TANGSEL.Turnbacknews.com – Semuanya berawal pada Maret 2020. Indonesia bagaikan negara mati karena pemerintah menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berarti segala kegiatan dilakukan di rumah masing-masing. Tidak terkecuali proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) ditiadakan dan diubah ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring (online). Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menekan penyebaran virus corona yang baru saja mewabah ke Indonesia. Tagar Stay at Home pun menjadi trending topic kala itu. Awalnya kebijakan PSBB hanya berlangsung selama dua minggu. Namun, apa daya, angka penularan virus COVID-19 semakin meningkat, sehingga pemerintah pun memperpanjang kebijakan PSBB hingga sekarang.

Walaupun pandemi COVID-19 membuat siswa sekolah harus tetap belajar dari rumah, namun hal tersebut tidak menghalangi kami sebagai pelajar SMA Stella Maris BSD untuk tetap semangat menuntut ilmu. Satu semester sudah kami lewati dengan belajar secara online. Setiap hari kami menjalankan segala kewajiban sebagai seorang pelajar. Meski tanpa bertatap muka, tidak mengurangi semangat kami untuk menunggu dengan setia setiap pagi hari, termasuk kegiatan praktikum. Pandemi tidak menjadi alasan bagi kami menghentikan kegiatan praktik meskipun dari rumah.

Salah satunya seperti yang saya dan teman-teman kelas X IPA SMA Stella Maris BSD lakukan, yaitu praktikum kimia: menguji air teh, air gula, air garam, air cuka, dan air keran. Apakah larutan-larutan tersebut termasuk larutan elektrolit atau larutan non-elektrolit dengan menggunakan dua buah paku yang disambungkan ke baterai dan lampu menggunakan kabel. Dalam kegiatan praktikum tersebut, kami tidak perlu keluar rumah sama sekali karena kami memanfaatkan bahan-bahan dan alat yang ada di sekitar kami. Kami pun tetap mematuhi protokol kesehatan. Selesai praktikum, kami harus membuat laporan hasil praktikum.

Kami diajarkan untuk menyusun sebuah laporan dengan baik dan benar mulai dari judul hingga kesimpulan.

Selain kegiatan praktikum kimia, kami juga diberikan tugas menanam cabai. Praktik menanam cabai merupakan praktik dalam mata pelajaran entrepreneur. Kami dibebaskan untuk menanam cabai jenis apa pun yang ditemukan di dapur rumah kami. Kami dianjurkan untuk memanfaatkan alat dan bahan yang sederhana dan kami miliki di rumah. Contohnya bekas tempat makanan ringan dijadikan pot, kemudian tanahnya mengambil dari tanah di taman yang ada di rumah. Sehingga meskipun melakukan praktik, kami tetap berada di rumah untuk membatasi mobilitas sebagai bagian penerapan protokol kesehatan. Praktik menanam cabai tersebut berjalan kira-kira tiga bulan, dimulai Oktober 2020. Ada sebagian dari kami yang tanaman cabainya sudah berbuah, ada juga yang mati, ada juga yang sudah lebat daun dan tinggi batangnya namun belum memunculkan buah, dan masih banyak lagi.

Kegiatan praktik seperti ini merupakan kegiatan yang menyenangkan ketimbang hanya diberikan tugas tertulis atau menganalisis. Mengapa menyenangkan? Karena kegiatan praktik dapat mengurangi kejenuhan kami di masa sekolah daring ini dan dapat mengasah life skill kami.

Seperti dituturkan oleh Pramitha Nugraheni D.U, siswa kelas X IPA, SMA Stella Maris BSD.

(Adella)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here